Bali Yang Terasing
Terbayangkah anda dengan kehidupan bali di masa lapau? Hal itu mengingatkan saya ketika menonton film bali tahun 1902 disalah satu stasiun televisi. Kehindahan pulau bali sangatlah terasa pada jaman itu.
Udara yang sejuk kehidupan yang tentram dan ke-eksotikan lewat busana yang minim, membuat kolonial mempromosikan bali ke benua eropa. Keluguan masyarakat bali membuat kolonial menjadikan pulau ini sebagai lahan untuk obyek yang potensal. Keserhanaan masyarakat bali dan serta belum masuknya modernisasi, membuat masyarakat bali terkesan primitif. Memang tidak dapat di pungkiri setiap jaman akan membawa suatu perubahan yang sangat signifikan dan terkadang perubahan yang menjadikan suatu hal yang menghacurkan diri sendiri.
Masuknya modernisasi memang tidak dapat dibendung disemua lini kehidupan kita. Tanpa terasa modernisasi dan globalisasi sudah merasuk dalam diri kita selama ini. Di jaman modernisasi sekarang ini memang sangatlah sulit untuk mencari lahan pekerjaan untuk memenuhi kehidupan. Kebutuhan kian meningkat membuat kemiskinan di negara ini semakin banyak. Modernisasi menjadikan masyarakat untuk berpikir praktis dalam menyikapi kehidupan. Kepraktisan dan kecanggihan modernisasi membuat masyarakat berubah dan terjebak didalam keinstaan kehidupan modern sekarang ini. Nilai kemewahan dan kekayaan menjadikan derajat bagi manusia sekarang ini, dan banyak masyarakat mengiginkan hal itu dengan instan. Fenomena yang kerap terjadi didalam meraih derajad dan status di bali ini adalah penjualan tanah. Memang cara ini membawa kita cepat dan instan mencari suatu status. Banyak masyarakat bali terperangkap dengan dengan fenomena yang satu ini, yang bertindak hilaf didalam menyiasati modernisasi.
Masyarakat bali secara tidak sadar kerap kali menjual tanah mereka, yang kebanyakan alasan mereka dengan kesulitan ekonomi. Penjualan tanah ini menjadi kepuasan sesaat dan tidak sama kali dipikirkan bagaimana pasca penjualan tanah dengan uang yang mereka terima. Namun hal yang paling menarik dari semua ini adalah suatu hal yang sangat delematis dilakukan, karena mesin pemiskian negara yang sangat kentara. Dengan memberikan lebel tanah no 1 dengan harga pajak yang begitu tinggi, yang mengaharuskan mereka untuk menjual tanah mereka karena tidak mampu untuk membayar pajak yang mereka harus mereka tanggung untuk mempertahan anah mereka.
Keluguan dan mesin pemiskian ini, membuat langkah para investor tertarik untuk menanamkan modalnya di pulau yang sangat berpotensi. Kepekaan investor melihat bali sebagai peluang bisnis yang sangat potensial dan menjadikannya pabrik uang dan jarang sekali hal ini terlintas dipikiran masyarakat bali yang hanya sebagai penonton saja. Selain melihat bali sebagai lahan yang potensial, masyarakat balipun sangat jarang sekali mengenal kritik dan demontrasi seperti daerah-daerah lain di indonesia pada umumnya. ketentraman dan budaya nerimo (menerima) masyarakat bali sangat di manfaatkan oleh para investor. Keluguan itu menjadikan investor lega dan membuat suatu sistem kepada masyarakat bali menjadikan mereka tergantung dengan investor tersebut.
Banyaknya investor luar atau asing memanankan modalnya di bali membuat mereka bebas untuk berbuat apa-apa yang mereka sukai. Tanpa disadari masyarakat bali, seakan asing di tanah kelahian mereka sendiri. Anda lihat sekarang ini, hampir 50% pulau ini di kuasai oleh investor baik asing maupun dalam negeri. Namun jika kembali menayakan, siapa yang memberikan kelegan yang absolot bagi investor untuk menanamkan modal mereka di bali? Tidak lain dan tidak bukan adalah pemerintah itu sendiri. Dengan memberikan suatu izin kepada investor membuat bali menjadi terasing. Lalu kalau izin itu mudah di dapat lewat perintah, dan apakah tidak di tinjau kembali peran pemerintah yang tidak melihat dampak dari proyek para investor yang secara tidak langsung merusak alam bali. Saya kira renungan ini adalah bagian dari sikap saya melihat sebuah fenomana yang saya rasakan sekarang ini.




Leave a Reply