Selling Bali by the dollar
Ih……. Ngeri banget judul dari artikel inggris lho…….., sebenarnya saya hanya ingin mengutarakan pikiran lewat tulisan aja, dengan harapan bisa dipampang di Mading Taman 65. Dalam tulisan ini, saya membicarakan kebudayaan Bali yang selama ini sudah menjadi produk konsumsi public dengan nama pembanguan pariwisata yang menjual semua itu demi sepeser dolar, Paling tidak semua itu menurut saya. Maaf kalau salah, mohon dikoreksi ya……… terima kasih sebelumnya.
Tebayangkah anda dengan bagai mana bali pada masa lampau? Saya kita sorga yang di embeklan pulai ini sudah sirnah.
Memang kalau bicara mengenai kebudayaan di Indonesia, Bali pasti tidak dilupakan sebagai kota budaya yang kental dengan kesakralannya. Sorga pariwisata-pun melekat dalam nama pulau ini. Hal itu pula terbukti dengan adanya peninggalan barang-barang kuno, bangunan-bangunan kuno, serta kebudayaan unik. Selain budaya dan keindahan alamnya, fasilitas pendukung-pun tersedia, seperti hotel-hotel maupun cafe-café, discotik (hiburan malam) sebagai pelengkap wisatawan.
Sebagai penambah daya tarik wisatawan, pemerintah pun gencar mencanangkan program yang dinamakan dengan “Cinta kebudayaan“. Program yang dianjurkan pemerintah, membuat masyarakat menjadi beromba-lomba untuk menjaga kelestarian kebudayaan yang sekarang ini sering disebut dengan Ajeg Bali. Tetapi dibalik program yang dicanangkan oleh pemerintah itu, masyarakat Bali akan semakin diperbodoh oleh pemerintah. Hal itu dikarenakan oleh dampak dari program yang menjadikan masyarakat seakan dinina-bobok-kan oleh pemerintah. Dengan cara memberikan program yang bernuansa menjaga budaya, maka masyarakat bali akan terbius dan seolah-olah tujuannya pemerintah mulia. Tujuannya tidak lain, agar masyarakat terbuai dan membuat masyarakat tidak kritis dan membuatnya mengenal kritik, selain itu melarang masyarakat untuk menayakan dibalik program yang dicanangkan. Seperti apa yang dikatakan oleh Pak Degung, bahwa kebudayaan bali itu kebanyakan kebudayaan yang cinta damai, tidak mengenal demontrasi, tidak mengenal kritik terhadap kekuasaan serta penguasa. Tetapi di bali semua itu di katakan bahwa, ajaran keharmonisan tersebut ciptaan ideology pembagunanisme order baru.
Pembodohan yang tidak dirasakan tersebut, membuat mereka terbius oleh apa yang di katakan oleh pemerintah itu adalah benar. Pemikiran yang instant membuat mereka mudah untuk mengatakan bahwa program tersebut adalah suatu hal yang mulia dan patut di puji. Tetapi ketidak sadaran tersebut membuat mereka terlena dan tanpa disadari bahwa kebudayaan yang mereka agungkan telah di jual demi mendapatkan suatu keuntungan pemerintah. Kekritisan masyarakat bali menjadi dibungkam oleh pemerintah yang menebaran paham yang dianggap benar oleh masyarakat pada umumnya. Ketika masyarakat ingin mengkritisi kebudayaan mereka, maka akan dijauhi dan dikatakan jelme sing ngelah gae dan buruknya dianggap orang kiri (komunis)
Pembekuan mentalitas tersebut, membuat para investor atau pemodal bisa ingin menanamkan modalnya di bali. Untuk mendapatkan keamanan didalam memananam modal tersebut, maka langkah pertama yang dilakukan pemilik modal yaitu mencari tenaga kerja yang terdapat dilingkungan dengan upah sedikit. Hampir sekitar 70% masyarakat Bali menggantungkan hidup mereka dari pariwisata. Situasi ini membuat masyarakat bali menjadi ketergantungan dengan pariwisata dan tanpa sadar mengesahkan penjualan kebudayaan yang selama ini dilakukan oleh investor.
Penjualan kebudayaan atau sale calture ini memang sering tampak pada masyarakat sekarang ini. Kesakralanpun menjadi suatu prodak untuk meraih selembar dollar dari wisatawan yang berkenjung. Memang modernisasi sekarang ini membuat masyarakat lupa akan prinsip atau ideologi mereka. Masuknya moderenisasi membuat masyarakat Bali menjadi semakin tergantung dengan pariwisata. Kepekaan masyarakatpun yang tertanam sejak lama menjadi hilang dan seolah-oleh sale of culture menjadi suatu yang layak. Kebudayaan dan peningalan sejarah yang tanpa sadar telah terjual. Banyaknya barong dence, calon arang atau, bahkan pura-pun sekarang ini menjadi obyek pariwisata yang layak untuk dijual. Memang kalau kita harus simak fenomena itu sudah menjadi hal yang biasa dan bahkan sudah lumrah. Tetapi apakah itu hal yang disahkan? Atau malah menjadi pengesahan bias dari masyrakat di jaman sekarang ini?. Memang sangat sulit sekali untuk menjawab pertanyaan itu, kalau boleh saya katakan bahwa apa yang tidak bisa di jual untuk jaman sekarang ini? Apakah membagun pariwisata harus menelanjangkan diri dengan menjual idiologi? Saya kira itu bukan suatu cara untuk menarik pariwisatawan untuk berkunjung.
Memang dilematis yang di rasakan masyarakat bali sangatlah dirasakan. Hilangnya suatu nilai yang ditamankan selama ini sudah mulai memudar ketika modernisasi bersarang di setiap orang bali. namun disisi lain bahwa masyarakat bali selama ini banyak sekali ketergantungan dengan pariwisata didalam memenuhi kehidupan mereka. Tepisan juga muncul dari broker-broker pariwisata, yang mana pengesahan penjualan budaya ini bukan menjual kesakralan dengan menduplikatnya. Lalu kalau kita lihat, apa bedanya diantara kedua itu, toh penjualan budaya yang dilakukan oleh para broker tersebut.
……. Menurut saya yang paling penting, kita yang hidup sekarang ini haruslah lebih kritis didalam menerima program yang di canangkan oleh pemerintah. Untuk itu jangan gegabah menerima program tersebut, dan harus di pertanyakan kembali agar tidak diperbodohi oleh pemerintah. ………..Bukannya saya menggurui, tapi cumin mengingatkan saja agar kita tidak selalu di perbodohi oleh pemerintah dan juga antek-anteknya…….





Leave a Reply